Proyek pembangunan jalan non-tol Buleleng-Denpasar atau shortcut yang disebut akan memangkas waktu tempuh perjalanan dari Ibukota Provinsi Bali ke wilayah Bali Utara menjadi lebih cepat telah diluncurkan pada pertengahan November 2018. Jalan shortcut yang rencananya rampung pada 2021 tersebut dapat memangkas perjalanan dari Buleleng ke Denpasar menjadi hanya 1,5 jam.

Terbangunnya jalan shortcut tersebut tentu memberikan udara segar baik bagi kemajuan wilayah di Bali Utara yang terkesan belum se-berkembang wilayah Bali Selatan yang populer. Begitu pula dengan potensi investasi sektoral yang hadir baik saat pengerjaan maupun pasca terselesaikan.

Diantara sektor-sektor strategis yang berperan dalam pengembangan area Bali Utara, properti merupakan sektor investasi yang dinilai memiliki prospek paling menjanjikan. Hal tersebut dikarenakan tidak hanya dalam bagian kebutuhan perumahan masyarakat, namun juga dapat menyentuh kebutuhan hunian akomodasi yang dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata disana. Pada hakikatnya, properti diketahui merupakan sektor investasi yang nilainya tidak akan pernah turun meskipun waktu berganti.

Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia Bali (DPD REI Bali) mengelompokkan beberapa faktor yang membuat properti adalah investasi yang menjanjikan di wilayah Bali Utara. Berikut diantaranya:

Pembangunan Non Tol Buleleng-Denpasar Berikan Angin Segar Bisnis Properti

Permintaan Tinggi

Tino Wijaya, Sekretaris DPD REI Bali, mengatakan saat ini masyarakat setempat tergolong mendamba keberadaan dari hadirnya sejumlah hunian yang diperuntukkan tidak hanya sebagai tempat tinggal namun juga untuk berinvestasi. Dalam pengelompokkan developer-developer dalam DPD REI Bali, permintaan hunian paling tinggi terdapat pada dua golongan pendapatan masyarakat, yaitu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas.

Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, tipe rumah subsidi atau rumah murah dengan kisaran dibawah 200 jutaan merupakan tipe hunian yang paling banyak dicari. Meskipun daya beli MBR yang belum terlalu tinggi, atensi permintaan yang sangat tinggi cukup dapat dijadikan alasan betapa prospektifnya untuk berinvestasi properti di wilayah tersebut. Hal tersebut juga telah teratasi melalui program kredit pemilikan rumah (KPR) yang menawarkan cicilan murah per bulannya.

Pangsa permintaan hunian yang tinggi pada masyarakat berpenghasilan menengah ke atas rata-rata bertujuan bukan untuk ditinggali, melainkan untuk diinvestasikan kembali. Tino mengatakan, beberapa investor properti yang datang ke Bali Utara mengincar wilayah-wilayah di pesisir pantai utara Bali karena lokasinya yang indah serta dekat dengan destinasi pariwisata seperti di gugus Pantai Lovina.

Potensi Pariwisata

Tidak hanya di selatan Bali, Bali Utara pun memiliki potensi pariwisata yang saat ini diburu wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Beberapa objek wisata seperti Pantai Lovina, Air Terjun Alig-alig, hingga Krisna Funtasticland

Sektor properti khususnya penyediaan dalam akomodasi perhotelan atau resort dapat menjadi area terbaik untuk berinvestasi mengingat semakin banyaknya.