Berkarakter Gagah dan Pahatan Fluidic Sculpture dari Mobil Hyundai Tucson

  • 2 min read
  • Feb 17, 2020
Hyundai Tucson

Mobil Hyundai Indonesia mempromosikan Tucson generasi pertama pada tahun 2004 yang lalu, masyarakat Indonesia disuguhi sebuah SUV asal Korea Selatan dengan desain khas Eropa yang memikat. Tidak hanya itu saja bermodalkan tampilan eksterior maupun interior, karakter berkendara pun berbeda dari SUV lain asal Jepang. Kenyamanan dan Fitur menjadi prioritas mobil ini, tanpa mengorbankan kestabilan dan pengendalian.

Kehadirannya tergolong konsisten hingga kini. Setelah memasuki generasi ketiga yang meluncur di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2016 lalu, Mobil ini tetap tampil sebagai SUV yang bercita rasa Eropa. Hingga membawa berbagai macam penyempurnaan yang agar meningkatkan value dari segala aspek, seperti dari desain, teknologi, efisiensi dan impresi berkendara.

Pada tahun 2017, PT Hyundai Mobil Indonesia (HMI) kembali meningkatkan nilai SUV ini, dengan memberikan gebrakan varian bermesin diesel. Kehadirannya sudah dinanti para pembeli setianya, yang telah jatuh hati pada diesel modern Hyundai di Santa Fe dan H-satu. Atas banyaknya masukan dari konsumen maupun media massa, akhirnya pihak HMI pun yakin membenamkan mesin tanpa busi ini ke dalam kap mesin Hyundai Mobil ini. Dan anda juga bisa lihat tentang harga hyundai Tucson terbaru 2020.

Macam diesel, jelas menambah persaingan Hyundai di segmen SUV. Mesin diesel ini bukanlah satu-satunya dari andalan utama, walaupun sudah diakui kehebatannya. Berbagai keunggulan dan kelebihan yang tertanam di dalam Mobil ini, tidak bisa dianggap remeh oleh kubu Jepang.

Pahatan Fluidic Sculpture

Bahasa desain Fluidic Sculpture yang sudah mengaliri setiap lekuk tubuh model-model Hyundai, disempurnakan menjadi Fluidic Sculpture 2.0. Masih ada pada bagian garis-garis berani, saat ini dipertegas kesan sporty yang mengekspresikan modernitas desain dengan postur lebih sempurna dan atletis.

seorang Peter Schreyer, desainer mobil ternama, yang dipercaya sebagai arsitek perajut lukisan-lukisan mengalir khas Fluidic Sculpture. Dengan Mempersatukan semuanya dengan tarikan garis yang berbeda dari sebelumnya. Hal ini lebih sederhana akan tetapi menunjukkan karakter yang lebih kuat.

Tampilan bagian depan didominasi grille besar, dengan menyatu harmonis dengan LED Projector Head Lamp dan Daytime Running Light atau DRL. Dan Fender berotot, yang tercipta dari 1 garis melintang tegas membelah pintu depan dan belakang. Ini mendapatkan desain SUV yang sporty tetapi tidak kaku. Semakin proporsional berkat disematkannya pelek tujuh belas inci berdesain baru yang dibalut ban berukuran 225/60 R17.

Desain terbaru mobil ini ditutup simplisitas di area belakang. Lampu belakang tampak harmonis dengan lampu depan. Begitupun dengan pola Z-shaped yang sama, tetap tampak berkelas meski tak bermain lekukan-lekukan tajam di sektor ini.

Mobil ini generasi ketiga ini, memang dikembangkan sebagai SUV yang memiliki kestabilan tinggi saat bermanuver kencang. Tidak hanya proporsi tubuh yang mencerminkan itu semua. Hal-hal kecil penunjang aerodinamika turut diperhatikan. Seperti menambahkan lip di bemper depan, mengurangi lengkungan di pilar-A, rear spoiler dengan garnish di sisinya dan terdapat lorong di kolong untuk mengurangi hambatan udara.

Desain Begitu Berkarakter dan Gagah

Kelebihan Mobil ini pertama yang paling mencuri perhatian masyarakat Indonesia yaitu tampilannya yang begitu gagah dan berkarakter, tampilan yang ada pada mobil ini adalah hasil kerja keras team Hyundai yang membalut mobil suv terbaru nya tersebut dengan mengusung konsep desain styling bodi yang terinsipirasi dari alam yang mengutamakan sebuah kesempurnaan.